Pulang Bukan karena Selesai, tetapi karena Perjalanan Masih Panjang

Oleh: Dorcelia Angelica DopongTonung 

Tulisan ini saya buat ketika berada di atas kapal, dalam perjalanan pulang ke Kupang dari Surabaya.

Jumat, 7 Agustus 2026, saya berangkat dari Kupang menuju Surabaya untuk melaksanakan praktik keperawatan jiwa. Saya membawa koper, jas almamater, rasa cemas, dan harapan tentang pengalaman yang akan saya temui selama praktik.

Salah satu pengalaman yang saya dapatkan selama menempuh pendidikan di STIKes Maranatha Kupang adalah kesempatan untuk belajar di lingkungan yang berbeda. Pembelajaran tidak hanya berlangsung di ruang kelas dan melalui buku, tetapi juga melalui pengalaman langsung di lapangan, bertemu dengan lingkungan baru, serta berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki latar belakang dan pengalaman yang beragam.

Kami melaksanakan praktik selama kurang lebih dua minggu, dari 8 hingga 20 Agustus 2026. Selama berada di Surabaya, kami tinggal bersama di asrama. Kehidupan bersama diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari praktik, menyelesaikan tugas, briefing, hingga berbagi cerita tentang pengalaman masing-masing.

Briefing yang dilakukan hampir setiap malam tidak hanya membahas tugas. Kami juga saling berbagi cerita mengenai kesulitan dan pengalaman yang ditemui selama praktik di ruangan masing-masing. Kebersamaan tersebut menjadi bagian dari pengalaman yang saya rasakan selama menjalani praktik.

Tempat kami melaksanakan praktik adalah RSD Prof. Dr. Moeljono Jawa Timur.

Selama praktik, saya berkesempatan mengenal berbagai kondisi pasien dengan gangguan jiwa maupun pasien yang memiliki penyakit penyerta. Saya belajar mengenai isolasi sosial, defisit perawatan diri, perilaku kekerasan, serta berbagai kondisi lain yang berkaitan dengan keperawatan jiwa.

Saya juga berkesempatan melihat secara langsung penggunaan mesin ECT (Electroconvulsive Therapy atau terapi elektrokonvulsif), yang sebelumnya lebih banyak saya kenal melalui pembelajaran di kelas.

Namun, ada satu hal yang cukup membekas selama praktik.

Saya memahami bahwa dalam pelayanan kesehatan, kondisi pasien tidak selalu dapat dilihat hanya dari apakah seseorang sudah sembuh atau belum. Dalam beberapa kondisi, pasien dapat mengalami perbaikan klinis dan tetap membutuhkan tindak lanjut atau dukungan setelah keluar dari rumah sakit.

Pengalaman tersebut membuat saya memahami bahwa proses pemulihan setiap orang dapat berbeda. Sebagai mahasiswa keperawatan, saya belajar untuk melihat pasien tidak hanya dari kondisi penyakitnya, tetapi juga dari kebutuhan, lingkungan, dan proses yang sedang dijalaninya.

Tanggal 8 Agustus menjadi hari pertama praktik. Rasa takut, bingung, dan kesulitan menyesuaikan diri tentu saya rasakan. Saya datang dari Kupang dengan kebiasaan dan cara berkomunikasi yang berbeda. Karena itu, saya perlu beradaptasi dengan lingkungan, bahasa, kebiasaan, dan cara berkomunikasi yang saya temui selama berada di Jawa Timur.

Dari pengalaman tersebut, saya semakin memahami bahwa menjadi perawat bukan hanya tentang menguasai tindakan dan teori, tetapi juga tentang bagaimana berkomunikasi dengan pasien.

Cara menyampaikan sesuatu dapat memengaruhi bagaimana pesan tersebut diterima oleh pasien. Karena itu, komunikasi menjadi salah satu hal yang terus saya pelajari selama praktik.

Saya bersama enam teman lainnya ditempatkan di salah satu ruang perawatan bagi pasien dengan gangguan jiwa yang juga memiliki penyakit penyerta.

Di sana saya bertemu dengan pasien dengan latar belakang dan kondisi yang berbeda-beda. Pengalaman tersebut membuat saya melihat bahwa setiap pasien memiliki kebutuhan dan perjalanan hidup yang tidak sama.

Ada pasien yang masih membutuhkan perawatan dan pendampingan, sementara ada pula yang setelah kondisi klinisnya membaik tetap membutuhkan dukungan dari keluarga maupun lingkungan sosialnya.

Pengalaman itu membuat saya menyadari bahwa keluar dari rumah sakit tidak selalu berarti seluruh persoalan telah selesai. Bagi sebagian orang, tahap berikutnya justru merupakan proses untuk kembali menjalani kehidupan dengan dukungan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Selama dua minggu, saya tidak hanya belajar mengenai perawatan pasien, tetapi juga belajar tentang kesabaran.

Dalam berinteraksi dengan pasien yang mengalami penurunan daya ingat, misalnya, saya belajar bahwa tidak semua interaksi harus menghasilkan sebuah ingatan yang bertahan lama. Kehadiran, perhatian, dan cara kita memperlakukan pasien tetap menjadi bagian penting dalam memberikan asuhan.

Saya juga bersyukur mendapatkan kesempatan belajar bersama Clinical Instructor (CI), yaitu pembimbing klinik yang mendampingi mahasiswa selama praktik, serta para perawat di ruangan. Dari mereka saya belajar bahwa merawat pasien tidak hanya berkaitan dengan obat, teori, dan tindakan keperawatan, tetapi juga membutuhkan kesabaran, komunikasi, dan sikap menghargai pasien.

Dua Minggu yang Berarti

Dua minggu mungkin terdengar singkat.

Saya datang sebagai mahasiswa yang membawa bekal teori, rasa takut, dan keinginan untuk belajar. Perlahan, saya mulai terbiasa dengan lingkungan praktik, memahami situasi di ruangan, dan belajar berkomunikasi dengan pasien maupun tenaga kesehatan.

Kemudian, tanpa terasa, waktunya pulang tiba.

Kini saya berada di atas kapal menuju Kupang. Ketika berangkat, saya membawa koper, jas almamater, dan harapan tentang pengalaman yang akan saya dapatkan. Ketika pulang, saya membawa ilmu, pengalaman, cerita, dan kenangan dari dua minggu yang telah saya jalani.

Saya berangkat ke Surabaya untuk belajar tentang keperawatan jiwa. Namun, selama praktik, saya juga mendapatkan pelajaran tentang kesabaran, perbedaan, penerimaan, komunikasi, dan cara melihat manusia secara lebih utuh.

Saya datang untuk belajar merawat orang lain. Dalam proses tersebut, saya juga belajar memahami bahwa setiap orang memiliki kondisi dan perjalanan yang berbeda.

Surabaya akan menjadi salah satu bagian dari perjalanan pendidikan saya. Bukan hanya karena di sana saya melaksanakan praktik, tetapi karena di tempat itu saya belajar beradaptasi dengan lingkungan baru, menghadapi rasa takut, menjalani proses praktik, dan mendapatkan pengalaman yang sebelumnya hanya saya temui melalui pembelajaran di kelas.

Dua minggu memang singkat, tetapi pengalaman yang diperoleh selama waktu tersebut menjadi bagian dari proses belajar saya sebagai mahasiswa keperawatan.

Saya datang membawa tugas. Saya pulang membawa ilmu dan pengalaman.

Saya datang sebagai mahasiswa. Saya pulang dengan cerita yang akan menjadi bagian dari perjalanan pendidikan saya. Dan mungkin, suatu hari nanti ketika membaca tulisan ini kembali, saya akan tersenyum dan berkata: “Ternyata, pernah sejauh itu saya pergi untuk belajar menjadi perawat.”

Karena pada akhirnya, pulang bukan karena semuanya telah selesai. Pulang adalah jeda untuk melihat sejauh apa perjalanan yang telah dilalui, sebelum kembali melanjutkan langkah yang masih panjang.

 



Profil Penulis

Dorcelia Angelica DopongTonung

Penulis adalah mahasiswa aktif Semester V di Program Studi D3 Keperawatan STIKES Maranatha Kupang. Ia memiliki minat besar dalam urusan membaca, menulis, dan kegiatan positif lainnya.