Oleh: Imanuel Bekak
Nama saya
Imanuel Bekak. Saya lahir dan tumbuh di sebuah daerah yang penuh dengan
kesederhanaan, yaitu Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Bagi banyak orang,
tempat tinggal saya mungkin dikenal sebagai daerah dengan tantangan alam yang
tidak mudah. Musim panas yang panjang serta jarak yang jauh menuju pusat
pelayanan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sana. Namun, bagi saya,
tempat tinggal saya bukan hanya tentang keterbatasan. Tanah ini mengajarkan
saya arti perjuangan, ketulusan, kebersamaan, dan kepedulian terhadap sesama.
Di Alor juga
ada dugong yang kami kenal dengan nama Mawar. Tempatnya ada di Mali, dekat
bandara. Sudah banyak pengunjung dari luar yang berkunjung untuk melihat Mawar,
si dugong. Mawar sangat jinak dan pintar. Kalau dipanggil namanya, Mawar akan
datang dan membiarkan kita mengelus kepalanya.
Saya
dibesarkan dalam lingkungan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai budaya,
persaudaraan, dan toleransi yang begitu tinggi. Sejak kecil, saya mengenal
nilai-nilai kehidupan yang diwariskan oleh leluhur kami. Masyarakat kami
mengajarkan bahwa manusia tidak hidup sendiri, tetapi selalu terhubung dengan
keluarga, alam, dan lingkungan sekitar. Saling mengerti dan saling membantu
yang sering terlihat dalam kehidupan masyarakat menjadi bagian penting dalam
hidup saya.
Pengalaman
saya ketika teman saya dipanah dan terkena bagian belakang kepalanya. Saat itu,
saya dan kakaknya teman saya membantu membawa dia ke rumah sakit di Kalabahi.
Namun, setelah itu kami kurang tahu apa yang terjadi. Tiba-tiba dari rumah
sakit disampaikan bahwa dia harus dirujuk ke rumah sakit di Kupang. Sampai di
rumah sakit di Kupang, teman saya sudah tidak bisa tertolong. Dalam keadaan
seperti itu, kami sangat sedih karena teman kami telah meninggal.
Pengalaman
tersebut perlahan membuat keinginan dalam diri saya untuk bekerja di bidang
kesehatan. Saya melihat bahwa kesehatan sangat penting bagi masyarakat yang
tinggal jauh dari fasilitas kesehatan. Saya sering melihat bagaimana beberapa
orang harus menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk mendapatkan pelayanan
medis. Ada yang menahan rasa sakit karena keterbatasan biaya, ada pula yang
terlambat mendapatkan pertolongan karena jarak dan kondisi jalan yang kurang
memungkinkan.
Di tempat saya
tinggal, perawat belum terlalu banyak karena tempat saya tinggal di pedesaan.
Namun, saat ada seseorang yang mengalami kesulitan, masyarakat akan datang
memberi bantuan tanpa harus diminta. Kalau ada keluarga yang sakit, tetangga
akan datang menolong tanpa diminta, membawa makanan, dan menemani keluarga
tersebut. Saya belajar bahwa kepedulian sosial itu penting dan harus diwujudkan
melalui tindakan nyata.
Selama saya
menjalani pendidikan, saya mulai memahami bahwa seorang perawat lebih dari
sekadar memiliki kemampuan. Seorang perawat harus mempunyai pengetahuan dan
keterampilan dalam bidang kesehatan, mampu memberikan tindakan keperawatan,
serta memiliki hati yang mampu memahami kondisi pasien.
Namun,
perjalanan menuju mimpi tersebut tidaklah mudah. Saya berasal dari keluarga
yang sederhana. Keterbatasan ekonomi menjadi salah satu tantangan besar yang
harus saya hadapi. Keinginan untuk melanjutkan pendidikan menjadi seorang
perawat sering kali berhadapan dengan kenyataan bahwa biaya pendidikan tidak
sedikit. Ada rasa takut dan ragu apakah saya bisa mencapai cita-cita tersebut.
Karena keadaan
seperti itu, saya selalu mengingat pesan orang tua saya, “Kamu memang berbeda,
tetapi kami yakin kamu pasti bisa dan lebih kuat dari mereka. Jangan pantang
menyerah.”
Dari situ,
saya selalu mengingat pesan orang tua saya dan perjuangan mereka. Saya
menyadari bahwa pendidikan adalah jalan yang membawa perubahan, bukan hanya
untuk diri saya, tetapi juga bagi keluarga dan masyarakat sekitar.
Saya belajar
juga kalau pasien itu punya cerita yang berbeda-beda karena ada yang
membutuhkan pertolongan medis dan ada yang membutuhkan dukungan atau perhatian.
Terkadang, sebuah senyum, sentuhan tangan, atau kalimat penguat dapat memberi
arti besar bagi seseorang yang menghadapi situasi sakit.
Profesi
perawat juga mengajarkan nilai kemanusiaan yang sangat tinggi. Seorang perawat
dituntut untuk memiliki empati, kesabaran, ketelitian, dan rasa tanggung jawab
yang besar. Dalam menjalankan tugasnya, perawat harus siap melayani siapa saja
tanpa membedakan suku, agama, status sosial, maupun latar belakang ekonomi.
Nilai-nilai tersebut sangat sejalan dengan kehidupan masyarakat Alor yang
menjunjung tinggi persaudaraan dan kepedulian terhadap sesama.
Saya menyadari
bahwa menjadi perawat bukanlah jalan yang mudah. Perawat harus siap menghadapi
berbagai tantangan, mulai dari jam kerja yang panjang, tanggung jawab yang
besar, hingga risiko terpapar penyakit saat merawat pasien. Selain itu,
pendidikan keperawatan juga membutuhkan kesungguhan, disiplin, dan kerja keras.
Namun,
berbagai tantangan tersebut tidak membuat saya takut. Sebaliknya, tantangan itu
semakin menguatkan tekad saya karena saya percaya bahwa setiap pengorbanan yang
dilakukan akan memberikan manfaat bagi banyak orang.
Saya ingin
menjadi perawat yang tidak hanya memiliki kemampuan medis yang baik, tetapi
juga mampu memberikan pelayanan dengan hati. Saya ingin hadir sebagai tenaga
kesehatan yang dapat mendengarkan keluhan pasien, memberikan semangat kepada
mereka yang sedang sakit, serta membantu masyarakat memperoleh pelayanan
kesehatan yang layak.
Saya percaya
bahwa kesembuhan pasien tidak hanya bergantung pada obat-obatan, tetapi juga
pada perhatian, kepedulian, dan dukungan yang diberikan oleh tenaga kesehatan.
Keinginan saya
menjadi perawat juga lahir dari harapan untuk berkontribusi bagi Alor. Saya
ingin suatu hari nanti kembali mengabdi dan membantu masyarakat di tempat saya.
Saya ingin menjadi perawat yang tidak hanya bisa memberikan tindakan
keperawatan, tetapi juga bisa mendengarkan keluhan pasien, memberikan semangat,
dan membantu masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Saya ingin ilmu
yang saya dapat selama pendidikan bisa berguna bagi keluarga saya dan
masyarakat di Alor.
Nilai budaya
di Alor yang saya bawa sejak kecil makin memperkuat cara pandang saya sebagai
calon tenaga kesehatan. Budaya Alor mengajarkan saya untuk hidup dalam
semangat, merawat toleransi secara nyata, dan melestarikan warisan leluhur.
Perjalanan saya untuk menjadi seorang perawat mungkin masih panjang dan masih banyak tantangan yang harus saya hadapi. Namun, saya percaya bahwa dengan kerja keras, doa orang tua, dan tidak mudah menyerah, saya bisa mencapai cita-cita saya. Bagi saya, menjadi seorang perawat bukan hanya tentang pekerjaan, tetapi tentang bagaimana saya bisa hadir untuk membantu orang lain dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dari Alor, saya memulai langkah kecil ini dengan
harapan suatu hari nanti saya bisa kembali dan mengabdi untuk tanah tempat saya
dibesarkan.
Imanuel Bekak
Penulis adalah mahasiswa aktif Semester I di Program Studi D3 Keperawatan STIKes Maranatha Kupang. Tulisan ini merupakan salah satu luaran tugas dari mata kuliah Bahasa Indonesia.
Bagikan informasi ini:
