Dosen PROD3K Bawa Pengalaman Keluarga dengan Anak Stunting ke Konferensi Pangan Nusantara

 

Tim dosen PROD3K STIKES Maranatha Kupang pada Konferensi Pangan Nusantara 2026
Tim dosen PROD3K STIKES Maranatha Kupang saat mengikuti Konferensi Ilmiah Sistem Pangan Berkelanjutan 2026 di Kupang.

Kupang, 17 September 2026 — Ketika sebuah keluarga pertama kali mendengar anaknya mengalami stunting, persoalan yang dihadapi tidak berhenti pada diagnosis. Ada proses memahami, menerima, mengambil keputusan, mengubah kebiasaan, hingga menyesuaikan kembali cara memenuhi kebutuhan pangan anak.


Proses itulah yang dibawa dosen Program Studi D-III Keperawatan (PROD3K) STIKES Maranatha Kupang ke ruang ilmiah melalui Konferensi Ilmiah Sistem Pangan Berkelanjutan 2026 seri Nusa Tenggara Timur di Kupang, 16 September 2026.


Saverinus Suhardin, S.Kep., Ns., M.Kep., bersama Awaliyah Muslimah Suwetty, S.Kep., Ns., M.Kep., Meldy Emry Hamdany Lede, S.Kom., M.Kes.,dan Joli Riyana Nubatonis, S.Kep., Ns., M.Kep., dalam konferensi tersebut mempresentasikan hasil penelitian berjudul “Dari Diagnosis Menuju Adaptasi: Model Siklus Adaptasi Keluarga dalam Pemenuhan Pangan Anak Stunting.”


Konferensi yang diselenggarakan di Kupang itu mempertemukan akademisi, peneliti, mahasiswa, pemerintah daerah, dan pegiat pangan untuk membahas berbagai persoalan sistem pangan di Nusa Tenggara Timur. Sesi ilmiah dibagi dalam empat tema, dengan penelitian tim PROD3K berada pada Tema 3: “Diversifikasi Konsumsi, Sistem Pangan Lokal, dan Resiliensi Gizi Komunitas.” Informasi selengkapnya terkait kegiatan tersebut bisa baca lebih lanjut di webiste Konferensi Ilmiah Sistem Pangan Berkelanjutan – Nusa Tenggara Timur


Dari Perubahan Iklim hingga Stunting


Sebelum memasuki sesi pemaparan makalah, rangkaian kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan doa pembukaan. Sejumlah pemangku kepentingan kemudian menyampaikan sambutan yang memberikan gambaran lebih luas mengenai persoalan pangan di NTT.


Direktur ICRAF Program Indonesia-Landscape Alliance, Andree Ekadinata, menyinggung perubahan iklim yang menurutnya bukan lagi sekadar isu, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.


Menurut Andree, kondisi tersebut membuat pembahasan mengenai ketahanan pangan semakin penting. Berbagai hasil penelitian dan praktik baik dari tingkat tapak perlu dihimpun agar dapat menjadi pembelajaran dan pijakan bagi kebijakan ke depan.


Ia juga menyoroti pengetahuan lokal masyarakat NTT yang selama ini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Masyarakat, menurutnya, sebenarnya telah memiliki berbagai pengetahuan mengenai pangan dan cara bertahan dalam menghadapi kondisi lingkungan. Tantangannya adalah bagaimana pengetahuan lokal tersebut terus digali, didiskusikan, dan bila diperlukan dihidupkan kembali dalam konteks kebutuhan masa kini.


Perspektif serupa muncul dalam sambutan Alice Birnbaum, Head of Development Cooperation and Counsellor, Global Affairs Canada. Ia menekankan bahwa ketahanan pangan berkaitan erat dengan kesehatan dan penghidupan masyarakat, sementara berbagai tantangan global membuat sistem pangan semakin membutuhkan perhatian dan kerja sama.


Secara daring, Jarot Indarto, Direktur Pangan dan Pertanian Bappenas, menyoroti keanekaragaman pangan lokal dan bentang alam, transformasi sistem pangan, serta pentingnya hasil penelitian sebagai masukan bagi pembangunan. Keberlanjutan sistem pangan, menurutnya, merupakan investasi jangka panjang.


Sementara itu, Theresia M. Florensia, Plt. Kepala Bapperida Provinsi NTT, yang membuka kegiatan secara resmi, turut menyinggung persoalan stunting di NTT. Ketersediaan pangan menjadi salah satu hal yang berkaitan dengan persoalan tersebut.


Rangkaian pembukaan kemudian dilanjutkan dengan dua paparan ilmiah kunci sebelum peserta berpindah ke ruang masing-masing sesuai tema.


Membawa Pengalaman Sembilan Keluarga


Di Ruang Flores, Hotel Harper Kupang, enam pemapar mengikuti sesi Tema 3. Salah satu pemapar sebelum Saverinus adalah Dr. Ina Debora Ratu Ludji, S.Kp., M.Kes., dosen Poltekkes Kemenkes Kupang, yang mempresentasikan praktik pencegahan stunting melalui kemitraan multipihak dan pemberdayaan ekonomi keluarga di Kabupaten Timor Tengah Selatan.


Saverinus kemudian menyampaikan penelitian timnya. Penelitian tersebut berangkat dari pengalaman sembilan keluarga dengan anak stunting. Melalui analisis kualitatif, tim melihat bagaimana keluarga menjalani proses setelah menerima diagnosis dan bagaimana mereka menyesuaikan pemenuhan pangan anak dalam kehidupan sehari-hari.


Pada tahap awal, keluarga tidak selalu memahami stunting sebagaimana pemahaman medis. Ada keluarga yang menganggap tubuh pendek sebagai sesuatu yang biasa karena kondisi serupa juga ditemukan pada anggota keluarga dari generasi sebelumnya.


Namun, pemaknaan tersebut tidak berhenti di sana. Dalam perjalanan perawatan, keluarga mulai memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru. Mereka belajar memahami kondisi anak, mempertimbangkan berbagai pilihan, memanfaatkan bahan pangan lokal, berinteraksi dengan layanan kesehatan, dan menyesuaikan pemenuhan kebutuhan pangan berdasarkan kondisi keluarga.


Dari proses tersebut, tim merumuskan Model Siklus Adaptasi Keluarga dalam Pemenuhan Pangan Anak Stunting. Model tersebut menggambarkan bahwa adaptasi keluarga bukan proses sekali jadi. Diagnosis dapat menjadi awal, kemudian keluarga melakukan pemaknaan, mengambil keputusan, melakukan penyesuaian dalam pemenuhan pangan, mengevaluasi pengalaman, dan kembali melakukan adaptasi sesuai kebutuhan.

Dosen PROD3K STIKES Maranatha Kupang bersama Dr. Ina Debora Ratu Ludji, S.Kp., M.Kes., setelah mengikuti sesi pemaparan makalah pada Tema 3 Konferensi Ilmiah Sistem Pangan Berkelanjutan 2026 di Kupang.


Budaya, Pangan Lokal, dan Kemampuan Keluarga


Presentasi tersebut kemudian dilanjutkan dengan diskusi bersama peserta. Seorang dosen dari Universitas Katolik Widya Mandira Kupang menanyakan pendekatan budaya pada keluarga yang memiliki anak dengan stunting.


Pertanyaan tersebut membawa kembali pembahasan pada temuan penelitian bahwa cara keluarga memahami stunting dipengaruhi oleh pengalaman dan keyakinan yang telah mereka miliki sebelumnya. Pemahaman bahwa tubuh pendek merupakan kondisi yang biasa, misalnya, menjadi bagian dari proses awal keluarga dalam memaknai diagnosis.


Pertanyaan berikutnya datang dari mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Kupang mengenai strategi pemanfaatan bahan pangan lokal untuk menangani stunting. Dalam penelitian yang dipresentasikan, bahan pangan lokal tidak hanya dilihat sebagai bahan makanan yang tersedia di sekitar keluarga. Pemanfaatannya merupakan bagian dari proses keluarga dalam menyesuaikan praktik pemenuhan pangan dengan pengetahuan, pengalaman, dan kondisi yang mereka miliki.


Sementara itu, mahasiswa Universitas Nusa Cendana menanyakan kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan pangan olahan seperti susu dan suplemen. Pertanyaan tersebut memperluas diskusi mengenai kemampuan keluarga dalam menyesuaikan pilihan pangan dengan kebutuhan anak dan kondisi rumah tangga.


Bagi tim peneliti, ketiga pertanyaan tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman keluarga dalam menghadapi stunting dapat dilihat dari berbagai sisi. Ada aspek budaya, ketersediaan pangan lokal, kemampuan ekonomi, pengetahuan kesehatan, hingga proses pengambilan keputusan di dalam keluarga.


Pangan dan Kesehatan Tidak Berdiri Sendiri


Keikutsertaan dalam konferensi tersebut memberikan refleksi tersendiri bagi Tim Peneliti PROD3K sebagai perawat dan dosen keperawatan. Berbagai paparan yang didengarkan dalam konferensi memperlihatkan bahwa persoalan pangan tidak berdiri sendiri. Pangan berkaitan dengan kesehatan, penghidupan, lingkungan, budaya, dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi perubahan.


“Bagaimanapun juga, urusan kesehatan sangat erat kaitannya dengan pangan. Ketahanan pangan bisa menjadi salah satu penentu kualitas kesehatan di masa depan. Karena itu, sebagai perawat, saya bersama tim sangat bersyukur bisa belajar bersama peneliti dan pemakalah lainnya,” ujar Saverinus.


Awaliyah, Meldy dan Joli juga menyampaikan kesan yang sama. Bagi tim peneliti PROD3K, forum tersebut menjadi ruang untuk berbagi pengalaman penelitian sekaligus belajar dari berbagai perspektif tentang pangan, kesehatan, dan kehidupan masyarakat NTT.


Selain itu, bagi PROD3K STIKES Maranatha Kupang, pengalaman tersebut sekaligus menjadi bagian dari proses membangun budaya akademik. Hasil penelitian tidak hanya berhenti dalam bentuk laporan, tetapi dibawa ke ruang ilmiah untuk dipresentasikan, didiskusikan, dan dipertemukan dengan perspektif dari berbagai bidang.